Senin, 09 April 2012

F-16 Armament, Bag. 2 -end-


6. AN/AAQ-13 and AN/AAQ-14 LANTIRN
Navigation and Targeting Pod


Introduction

LANTIRN adalah sistem yang terdiri dari 2 pod yang mana memungkinkan aircrew dapat terbang baik disiang hari ataupun malam hari dan dalam kondisi meteorologi yang merugikan. Menyediakan Terrain-Following Radar (TFR), Forward-Looking Infra-Red (FLIR), targeting information for the aircraft's on-board fire control system dan target laser illumination. LANTIRN saat ini digunakan pada F-16C/D, F-15E/I/S dan F-14 platforms. Lebih dari 1.400 pod saat ini berada dalam pelayanan di 10 negara.



History

A USAF F-16C lines up on a tanker during an Allied Force combat mission. Note the ECM and Lantirn pods. (Photo by Greg L. Davis)

Program penelitian dan pengembangan, awalnya dipahami sebagai program upgrade untuk F-16, dimulai pada bulan September 1980 Martin Marietta (sekarang Lockheed Martin) sebagai kontraktor. 2 tahun kemudian pada tahun 1983, program tersebut telah dihentikan dan dibentuk kembali untuk mengurangi resiko kesalahan teknis yang dihadapi dengan pengembangan teknologi canggih, terutama Automatic Target Recognizer (ATR) sub-system. ATR ini ditujukan untuk secara otomatis membedakan antara berbagai target dimedan perang seperti MBT, SAM dan APC. Akhirnya diputuskan untuk tidak memakai fungsi ini diawal program, sebagai gantinya hal ini ditambahkan dibawah program retrofit dikemudian hari. Pada akhirnya, ATR tidak pernah masuk ke LANTIRN.

Penerbangan uji coba LANTIRN wide-angle HUD dimulai pada musim panas tahun 1982. Pada waktu itu, dukungan kongres untuk program ini sirna dan House Armed Services Committee memperingatkan bahwa mereka benar-benar serius untuk mempertimbangkan rekomendasi penolakan kewenangan pendanaan 1983. Tes penerbangan menggunakan dummy pod(equal to the real pods as far as weight, shape and mass distribution are concerned) dimulai pada bulan September 1982. Pod diinstrumentasikan sehingga pengukuran secara akurat dari vibration dan flutter dapat dilakukan.

Satu tahun setelah tes dengan HUD dimulai, pada musim panas tahun 1983, tes penerbangan dengan fully functional pod dimulai dengan 2 F-16B dan 2 A-10A. pada musim dingin 1984, LANTIRN telah menyelesaikan tes operasional dalam kondisi cuaca buruk selama kombinasi pengembangan (combined development), Test and Evaluation (DT&E) and Initial Operational Test & Evaluation (IOT&E) deployments di Eropa.

Dukungan kongres menurun saat kongres menetapkan bahwa, sebelum keputusan produksi diambil (diharapkan tahun 1985), LANTIRN harus dites dalam kompetisi dengan FliR-pod Ford Aerospace yang telah dikembangkan untuk F/A-18. USAF telah dilarang untuk memesan LANTIRN sebelum pengujian dilakukan. Pada saat itu LANTIRN telah menjadi komponen kunci dari program kunci seperti program F-15E dual-role fighter, dan dengan demikian tidak lagi dianggap sebagai sub-system F-16, tetapi sebagai program yang tersendiri. Hal ini pada akibatnya menyebabkan biaya yang semakin tinggi, karena biaya pengembangan LANTIRN tidak dapat dikenakan pada program F-16. Sebenarnya biaya yang semakin tinggi hanya sekitar 10%. Pada akhirnya LANTIRN dipilih untuk F-16C/D dan F-15E dan baru-baru ini melengkapi pesawat F-14 US Navy.

Angkatan udara akhirnya bisa menyetujui low-rate initial production of the navigation pod (tingkat produksi awal navigation pod yang rendah) pada bulan Maret 1985 dan full-rate production pada bulan Desember 1986. Produksi pod pertama dikirimkan ke angkatan udara pada tanggal 31 Maret 1987. Kontrak awal mencakup 561 navigation dan 506 targeting pod dan memiliki nilai $2.9 value. Complete LANTIRN system menambahkan sekitar $4 M untuk biaya pesawat yang merupakan tawaran yang tidak bisa diubah untuk mengaktifkan day/siang hari ke night/malam hari.

Pada bulan April 1986, IOT&E of the LANTIRN targeting pod membuktikan bahwa low-altitude/ketinggian rendah, night/malam hari, under-the-weather, precision attack mission telah layak. Angkatan udara menyetujui low-rate initial production pada bulan Juni 1986. Pengenalan LANTIRN merevolusi night warfare/ perang malam hari dapat menangkal kekuatan musuh ditempat yang gelap.



Construction

Sistem LANTIRN terdiri dari 2 pod, satu AN/AAQ Navigation Pod ("To Fly"), dan satu AN/AAQ-14 Targeting Pod ("To Fight"). Pod dirancang agar dapat beroperasi secara otomatis, sehingga pod dapat digunakan tanpa bantuan lain. Pod berkomunikasi dengan pesawat melalui standard 1553B data-bus.


AN/AAQ-13 Navigation Pod


1. Environmental Control Unit
2. Terrain-Following Radar
3. Antenna
4. Forward-Looking Infra-Red
5. Power Supply

Sub sistem utama navigation pod adalah Texas Instruments Ku-band terrain-following radar (AN/APN-237A), a wide field-of-view (WFOV) forward-looking infra-red sensor, dan komputer yang diperlukan dan suplai listrik.

TFR ini menggunakan pemrosesan signal yang canggih untuk menyediakan jangkauan azimuth yang luas, yang pada gilirannya dapat bermanuver dengan ganas dari kapal induk. Hal ini karena sistem dapat memberikan directional input (masukan arah) ke pilot atau flight control computer, sedangkan sistem yang lebih tua hanya menyediakan pitch-up commands.

TFR secara signifikan meningkatkan peluang pesawat untuk survive dalam modern battlefield, karena tidak hanya secara otomatis pilot dapat menghindari terrain/medan tetapi juga dapat menghindari sistem pertahanan udara dengan manuver dalam horizontal plane/bidang horizontal. Radar dapat dihubungkan langsung ke autopilot F-16 agar secara otomatis dapat mempertahankan ketinggian yang telah ditentukan sampai 100 feet saat berada diatas dihampir semua terrain. Memiliki 5 mode : Normal, Weather, ECCM, Low Probability of Intercept (LPI), dan Very Low Clearance (VLC).

FLIR ini memiliki 28 derajat field-of-view in azimuth dan 21 derajat dalam evaluasi ketinggian. Image yang dihasilkan ditempatkan pada outside scenery dengan memproyeksikannya pada HUD. Image ini buram/grainy, namun sense of depth (rasa kedalaman) nya cukup baik untuk terbang dalam kegelapan total atau asap dari medan perang, hujan, kabut, atau asap, namun menurunkan kinerja sistem karena energi infra-red sangat menyerap aerosols atau water vapor/uap air. Untuk prespektif yang diperluas diluar batas pandang HUD normal (beyond normal HUD viewing limits), pilot dapat HOTAS – memilih snaplooks kiri atau kanan 11 derajat dari center. Tombol lainnya pilot dapat memilih untuk "white hot" atau a positive "black hot" image. green dan white dan bukan black dan white. Setiap pilot memiliki keinganannya masing-masing.


AN/AAQ-14 Targeting Pod


1. Environmental Control Unit
2. Power Supply
3. Control Computer
4. Forward-Looking Infra-Red
5. Laser
6. Missile Boresight Correlator

Subsitem utama targeting pod adalah FliR dan laser designator/rangefinder. Keduanya ditempatkan di movable nose section of the AN/AAQ-14, dan distabilkan oleh system stabilisasi yang mengkompensasikan gerakan dan getaran pesawat. FLIR yang dipasang di two-axis turret beroperasi dalam 2 mode : a wide field-of-view (6x6 degrees) untuk akuisisi target atau a narrow one (1.7x1.7 degrees) untuk zooming in. Ketika LANTIRN tidak dalam operasi, turret diaktifkan kedalam sehingga sensor tidak mengenai element-element lainnya.

Close-up of the AN/AAQ-14 Targeting pod on the 5R station of an Aviano (31st FW) F-16CG on the ramp at Florennes during TLP 97-3. The large orange window is the FliR, the smaller yellow one the laser. (F-16.net pPhoto)

FLIR dapat digunakan secara independen untuk zooming in pada target yang telah dipilih. Data dari FLIR dimasukan menjadi satu multi-function head-down displays dikokpit dan digunakan untuk mengidentifikasi terrain features dan atau target yang berada dijangkauan yang jauh (long range).

The pod also houses Environmental Control Systems and a boresight correlator ("look where I look") hands-off system which passes targeting data to the aircraft's Fire Control Computer (FCC) and the weapon systems.

Laser designator dapat ‘’menerangi’’ target untuk laser-guided bombs. Hal ini juga dapat digunakan secara otomatis melacak target yang bergerak didaratan/ground serta untuk menandakan (designate) mereka untuk penembakan AGM-65 Maverick missiles. Hal ini bahkan dapat menandakan target untuk penembakan berulang-ulang Maverick (multiple Maverick shots) dalam single pass. Penggunaan laser lainnya adalah untuk menentukan jarak landmark yang tepat (determine the exact distance of a landmark) dalam rangka untuk mengupdate inertial navigation system pesawat. Hal ini sangat penting untuk menyampaikan persenjataan baik itu guided ataupun unguided tanpa acuan visual (visual references).


HUD and Cockpit Displays

GEC-Marconi holographic Head-Up Display (HUD) merupakan jawaban atas permintaan angkatan udara agar HUD mampu menampilkan WVOW FliR-imagery of the LANTIRN Pod. Desain new HUD memang sangat menantang : optic konvensional tidak mungkin mengimplementasikan seperti large combiner glass. New holographic technologies (diffraction gratings; simply put, mereka merefleksikan panjang gelombang cahaya tertentu/they reflect light of a particular wavelength atau warna dengan high efficiency saat mentransmisikan semua wavelengths yang lain dengan sedikit penyerapan) yang diterapkan, dikesempatan lainnya memastikan bahwa instalasi HUD tidak akan menghalangi ejection line (yaitu cukupnya ruang untuk leg dan feet pilot selama ejection). Desainer ingin menempatkan HUD dekat dengan ejection line sebisa mungkin untuk memaksimalkan FOV.


Dalam kasus F-16, combiner glass of the HUD juga berfungsi sebagai windshield selama ejection, karena one-piece canopy dihilangkan sepenuhnya sehingga mengexpos pilot ke slipstream. HUD combiner glass harus cukup kuat.



Versions

LANTIRN
Seperti dijelaskan diatas.

LANTIRN 2000
Tiga perangkat tambahan hardwere yang terdiri dari basic LANTIRN 2000 offers. Penambahan ini adalah :
  • A quantum well, third-generation FliR sensor;
  • A 40,000-foot altitude, diode-pumped laser;
  • A more compact, more powerful computer system.
8 – sampai 12 - micron FliR menggunakan quantum well technology untuk low-cost construction of extremely dense detector arrays. Memperluas weapon standoff range lebih dari 50%, menambahkan penilaian flexibilitas misi kerusakan pertempuran (mission flexibility of battle damage assessment) dan reconnaissance/pengintaian. Greater standoff range ensures less aircraft attrition. Generasi ketiga FLIR ini 23% lebih handal.
Diode pumped laser beroperasi pada jangkauan yang lebih besar dengan spot size yang lebih kecil. lower beam divergence, greater resolution/resolusi yang lebih baik dan pointing accuracy at 40.000 feet expand the altitude/akurasi pointing 40.000 kaki yang memperluas ketinggian dan jangkauan /range of the targeting pod. Diode-pumped laser 17% lebih dapat diandalkan berkat power supply yang ditingkatkan, part lebih sedikit, dan cooler operating temperature/ suhu operasi lebih dingin. Eye-safe training laser dengan tactical performance dan range terintegrasi.
LANTIRN 2000 computer lebih kecil, beratnya setengah dari yang lama, menggunakan power 2 kali lebih kecil dari computer yang digantinya. Throughput, memory dan reliability dioptimalkan. Softwere, kabel, dan interface tetap sama.

LANTIRN 2000+
Opsi tambahan untuk LANTIRN 2000 adalah :
  • A laser spot tracker to improve target identification and limit collateral damage.
  • A digital disk recorder for battle damage assessment and reconnaissance mission support;
  • An automatic target recognition system to reduce pilot workload by classifying high-priority targets;
  • A TV sensor, which has been successfully tested and flown, provides added capability around the clock.
Pathfinder and Sharpshooter
Untuk costumer internasional Pathfinder dan Sharpshooter (lebih murah dan sedikit kurang mumpuni) adalah turunan dari LANTIRN navigation and targeting systems.



F-16 Installation

Pesawat F-16 yang dilengkapi dengan LANTIRN pertama kali adalah Block 40/42, kadang-kadang disebut dengan "Night Falcon". Karena konsep "misionized aircraft" USAF yang diperpanjang menjadi individual Block, hanya F-16CG/DG Block 40/42 yang memiliki kemampuan LANTIRN dalam inventory USAF untuk jangka waktu yang lama (kecuali untuk beberapa F-16 A/B yang digunakan dalam LANTIRN-tests di Edwards).

Bersamaan dengan upaya LANTIRN, US AFRES sebelumnya, beberapa production fleet 125 unit F-16 A/B telah diupgrade dengan British Aerospace Systems & Equipments (BASE) Terprom system software. System ini telah ditambahkan untuk menghindari Controlled Flight Into Terrain (CFIT) - an euphemism untuk crashing selama low-level flights – yang merupakan bahaya yang serius karena tidak adanya FLIR yang baik seperti LANTIRN. Terprom source code yang dimasukan dalam 32Mb Fairchild DTM cartridges, mampu menyimpan 400nm2 of digital terrain data. Pada bulan Februari 1998, USAF mengumumkan rencananya untuk mengupgrade Block 25 dan Block 30/32 dan melengkapi pesawat-pesawat tersebut dengan navigation and targeting pods, kandidat yang memungkinkan adalah LANTIRN, LANTIRN 2000 dan (Israeli) Litening systems. Dan keputusan pun belum diambil.

Close-up of LANTIRN installation on a Greek F-16CJ prior to delivery: AN/AAQ-13 Navigation pod on the port chin station, AN/AAQ-14 Targeting pod on the starboard chin station. (LMTAS Photo)

Costumer asing seperti Yunani telah memesan 50 machines dengan kemampuan LANTIRN dan F-16 MLU Belanda cocok dengan LANTIRN. Konfigurasi LANTIRN night vision direncanakan untuk program F-16 Midlife Update (MLU) Belanda dan penerbangan perdananya pada bulan September 1997. F-16 Block 50 dengan cockpit display hamper identik dengan pesawat MLU Belanda, membawa LANTIRN targeting pod dengan electro-optical dan television sensors dan LANTIRN Pathfinder navigation pod dengan Laser Spot Locator. Penerbangan termasuk mengoperasikan pencitraan siang dan malam hari (day and night imaging operations).

Pesawat F-16 membawa LANTIRN pods di chin stations : AN/AAQ-13 Navigation Pod di port station (5L) dan AN/AAQ-13 Targeting Pod di starboard station (5R). Beratnya pod mengharuskan penguatan struktur internal dan undercarriage F-16. Landing gear yang diperkuat mengakibatkan bulges/tonjolan do landing gear door untuk mengakomodasi tires/ban yang lebih besar dan relokasi landing gear lights/lampu roda pendara ke edge of the landing gear doors/tepi pintu roda pendarat.



Operational Use

Data dari Navigation pod disajikan di HUD : FliR imagery ditampilkan sehingga persis overlaps/tumpang tindih dengan real world outside (dunia nyata yang berada diluar) sehingga memberikan clear view of the scenery (pandangan pemandangan yang jelas) dimalam hari ataupun dicuaca buruk (bukan ketika hujan : FLIR tidak dapat melihat melalui hujan karena air memiliki absorption peak/penyerapan tinggi di IR wavelengths). Steering cues/pengendali isyarat dari TFR tersebut baik diberikan langsung ke flight computer ataupun dipresentasikan di HUD sehingga pilot dapat mengambil tindakan yang tepat, kedua solusi yang memungkinkan pilot mengikuti kontur terrain diketinggian yang dipresentasikan.

NFOV FliR-imagery dari targeting pod dipresentasikan disalah satu heads-down displays. Setelah mendapatkan akurasi target (misalnya melalui radar atau visual melalui WFOV imagery di HUD, pilot dapat membawa targeting pod's FliR untuk menahan/bear dan mengidentifikasi target. Dalam kasus AGM-65 IR Maverick, missile's seeker head can simply be cued on target by the aircraft's Fire Control computers dan dengan demikian keLANTIRN (yang memberikan data langsung ke FCC). Target akuisisi yang dilakukan oleh missile akan dilakukan setelah AN/AAQ-14's FliR telah mendapatkan keakurasiannya. Pilot hanya memeriksa bahwa Maverick telah melock on, tembakan dan slew/belokan FLIR ke target selanjutnya setelah itu ia baru bisa langsung menembakan missile selanjutnya, jika pilot ingin menggunakan weapon lain, built-in laser designator dapat menerangi target untuk laser-guided ordnance, atau dapat memperoleh informasi keakuratan range/jangkauan untuk keakuratan pengiriman "dumb" ordnance, seperti cluster bombs atau iron bombs. Ketinggian maksimum dimana laser dapat digunakan adalah 12.000 ft (karena adanya redaman diudara/attenuation in the air).



Specifications

AN/AAQ-13 navigation pod
Weight : 470 pounds (211.5 kg) .
Length : 78.2 inches (199 cm) .
Diameter : 12 inches (30.5 cm).

AN/AAQ-14 targeting pod
Weight : 470 pounds (211.5 kg).
Length : 98.5 inches (251 cm) .
Diameter : 15 inches (38.1 cm).

Introduction Date : March 1987.

Unit Cost : Navigation pod, $1.38 million; targeting pod, $3.2 million (FY 1999).




7. GBU-31 and GBU-38 JDAM
Joint Direct Attack Munition


Introduction

An inert 2000lb GBU-31 JDAM on the number 3 station of a USAF F-16. (USAF photo)

Joint Direct Attack Munition (JDAM) adalah guidance tail kit yang mengkonversi keakuratan unguided free-fall bombs yang telah ada, all-weather guided bombs. JDAM kit terdiri dari new tail section yang mengandung inertial navigational system dan global positioning system (GPS) guidance control unit. JDAM dapat diluncurkan sekitar 15 mil dari target. JDAM adalah pengembangan bersama antara USAF dan US Navy yang dibangun oleh Boeing, dan cocok dengan standard Mk.80 series of free-fall bombs. Unit costnya sekitar $18.000 (FY 1999).



History

Pada awal tahun 1990, operasi Desert Storm adalah penyebaran pertama dalam skala besar smart bombs. Smart weapons digunakan selama Gulf War I terutama Laser Guided Bombs (LGB), yaitu standard Mk.80 series free-fall bombs yang dilengkapi dengan laser guidance kit. LGB tergantung pada target yang diterangi oleh ground-based atau air-borne laser designator. Karena optical wavelengths dapat diserap oleh air, cuaca yang buruk seperti kabut, awan, atau hujan cenderung membatasi kinerja laser-guided weapons. Meskipun LGB menyediakan keakuratan dalam keadaan cuaca yang cerah (siang atau malam), namun kinerjanya terbatas dalam keadaan cuaca buruk.

Pada saat yang sama, typical mission profiles diterbangkan dalam poperasi Desert Storm yang menyediakan unguided munitions walaupun kurang tepat. Pesawat dapat menjatuhkan bombs dari medium or even high altitude (ketinggian menengah atau ketinggian yang tinggi) untuk menghindari penembakan small-arms anti-aircraft, yang akan menurunkan keakuratan unguided munitions.

USAF F-16C block 42 #88456 from the F-16 CTF at Edwards AFB, dropping a JDAM bomb during a high-altitude test flight. Note the typical JDAM jacket and tail section containing the guidance section. (USAF photo)

Dua faktor inilah yang dibutuhkan untuk precision guided munition untuk segala kondisi cuaca. Di awal tahun 1990, General McPeak, lalu USAF Chief of Staff, menuliskan pada selembar kertas sesuatu yang dia inginkan yaitu agar industri dapat memproduksi apa yang ia inginkan. Dia menginginkan all weather precision guided bomb – sesuatu yang tidak tergantung pada visibilitas yang baik seperti laser guided bombs. Dia bahkan menuliskan 'radar guided'. Dia tidak tahu menahu tentang masalah teknis, dia hanyalah seorang pilot, apa yang ia tahu hanyalah ia menginginkan masalahnya terselesaikan : yaitu untuk hit target dalam kondisi cuaca apapun.

Penelitian dan pengembangan JDAM dimulai pada tahun 1992. GPS dipilih sebagai guidance technology, terutama karena biayanya yang rendah dan off-the-shelf availability. Pesawat strike dapat mengakurasi target dengan advanced all-weather sensors, seperti synthetic aperture radar (SAR), program GPS-guided weapons untuk hit individual target dilokasi yang telah ditentukan, menjatuhkan weapons secara bersamaan, dan kemudian segera pergi. Weapons akan memproses pelacakan ke individual target mereka tanpa intervensi atau bantuan sistem lain yang lebih lanjut.

Pada bulan Oktober 1995, USAF memberikan kontrak untuk EMD dan utnuk produksi pertama 4.635 JDAM kits dengan unit cost rata-rata $18.000, kurang dari setengah perkiraan biaya asli yaitu $40.000. JDAM yang pertama dikirimkan pada tahun 1997 dengan pengujian operasional ditahun 1998 dan 1999. Lebih dari 450 JDAM telah dijatuhkan selama pengujian, merekam 95% kehandalan sistem yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mencapai tingkat keakuratan 9.6-meter. Kinerja JDAM telah dibuktikan dalam kondisi cuaca buruk, termasuk dijatuhkan melalui awan, hujan dan salju.

USAF, US Navy, dan Marine Corps awalnya direncanakan untuk mendapatkan total lebih dari 87.000 JDAM kits dari Boeing, dengan total program cost lebih dari $2 B. Militer US sangat begitu antusias dengan weapon yang mereka telah belu sekitar 250.000, dan telah ada percakapan tentang penghapusan unguided bombs sepenuhnya dari inventory. JDAM juga telah dijual ke customer asing, yaitu dengan Israel dan Italia sebagai pelanggan ekspor yang pertama.



Construction

JDAM kit merupakan modifikasi yang sederhana, yang mana dapat dijelaskan dengan mudah dengan biayanya yang rendah. Terdiri dari tail section dan jacket yang membungkus disekitar body free-fall bomb. Different tails dan jackets yang tersedia untuk different bombs.


Key to drawing :
1. Warhead
2. Suspension lugs
3. 1760 interface
4. Jacket
5. Strakes
6. Guidance section
7. Fins

Tail memiliki moveable fins (sirip yang bergerak), dan mengandung thermal battery dan guidance system. Yang terakhir ini terdiri dari GPS (Global Positioning System) receiver dan Inertial Navigation System (INS). Guidance system terhubung ke pesawat induk dengan umbilical connection, meskipun wireless infrared link berada dalam kinerja. Different fuses yang tersedia : BLU-109 penetrator warhead yang akan menembus surface sebelum detonating/peledakan, tetapi fuse juga dapat diatur untuk airburst atau contact.

Jacket membungkus disekitar body bomb. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan manuver dan jangkauan melalui mid-body strakes yang bekerja sebagai aerodynamic surfaces.



Versions

Varian JDAM digunakan oleh F-16

GBU-31
Dua versi yang tersedia : GBU-31(V)1/B berdasarkan pada 946 kg (2085 lb) Mk.84 warhead, dan GBU-31(V)3/B berdasarkan pada 981 kg (2162 lb) BLU-109 forged steel penetrator warhead.

GBU-38
JDAM kit dengan Mk.82/BLU-111/B. 253 kg (558 lb).


F-16 Installation

JDAM hanya dapat diluncurkan oleh F-16 yang memiliki digital INS/GPS system dengan proper software upgrades untuk mengintegrasikannya dengan weapons management system. Pesawat yang menggunakan JDAM memerlukan 1760/1553-capable pylon. JDAM dapat dibawa oleh model F-16 sebagai beriukut : MLU, Block 30/32, Block 40/42, Block 50/52, Block 52+, dan Block 60. JDAM capability dapat ditambahkan ke model yang lebih tua (Block 30/32/40/42) dengan menginstall digital INS/GPS system, dan menginstall software upgrades yang diperlukan. Model yang lebih baru juga telah memiliki digital GPS/INS ketika keluar dari production line. Model ini juga dapat menggunakan radar mereka untuk memperbaiki koordinat target. Berdasarkan hasil radar dari target, koordinat target yang telah ditentukan diirimkan kembali ke JDAM guidance section.

Roll-out of the first F-16I 'Sufa' (#253) for Israel at LMTAS' Fort Worth facility on November 14th, 2003. Note the CFTs, dorsal spine, GBU-31 JDAMs, and the numerous bulges and fairings for undisclosed equipment. (LM photo)

F-16 Loadout
Armada F-16 USAF hanya menggunakan GBU-31 dan GBU-38. Station 3 dan 7 telah memiliki/dipasang wired untuk dapat membawa single JDAM. Station lainnya tidak dapat dilengkapi sepenuhnya untuk JDAM. Dengan menambahkan BRU-57/A Multiple Carriage, "Smart" Bomb Rack, 2 GBU-38's dapat dibawa pada station 3 dan 7.


F-16 Loading
Spesialis Munition merakit bombs dibase. Mereka mengambil conventional dumb bomb, memasang JDAM kit dan memastikannya dapat berguna, kemudia memasangnya pada pesawat.


Aiming & Firing

Koordinat direncanakan sebelumnya, fixed targets dikirimkan ke JDAM oleh aircrew. Koordinat ini misalnya ditentukan dari high-resolution aerial images. Jika target not pre-planned (seperti beberapa target di Afghanistan dan bukan diIrak), pesawat yang membawa JDAM muncul di area target dan menentukan target dengan pesawat JSTAR, Forward Air Controller, atau source lainnya. Jika pesawat peluncur memiliki kemampuan radar assist (seperti B-1, B-2, F-18E/F, dan terakhir F-16), radar data dapat digunakan untuk memperbaiki koordinat target.

"An 8th FW "Wolfpack" F-16C (Commander's aircraft) dropping a pair of 2000lb GBU-31 JDAM's. (USAF photo)"

JDAM secara otomatis memulai proses penginstalan selam captive carry ketika power dialirkan oleh pesawat. Weapon melakukan Built-in Testing, dan menyelaraskan INS dengan host aircraft's system. Targeting data secara otomatis down loaded ke weapon dari host aircraft. Ketika host aircraft mencapai release point dalam Launch Acceptable Region (LAR), pilot melepaskan weapon.

Setelah dilepaskan, JDAM terbang bebas dari pesawat dan berupaya untuk mengakuisisi signal GPS. Untuk meningkatkan kesempatan akuisisi GPS, JDAM biasanya dilepaskan dari ketinggian high altitude. Untuk mendapatkan akusisi ini biasanya terjadi selama 10 detik atau bisa lebih. Bomb's 3-axis INS dan GPS guidance systems akan mengambil alih dan membimbing bomb ke target tanpa memandang kondosi cuaca. Ada dua mode operasi : baik dengan GPS-assisted guidance, yang menghasilkan 13m CEP (Circular Error Probable), atau INS-only guidance, yang menghasilkan 30m CEP. INS – hanya digunakan ketika signal GPS – unavailable/tidak tersedia, sebagai contohnya ketika GPS jammers digunakan oleh musuh. Realita yang penting adalah bahwa Guidance Control Unit (GCU) menyediakan accurate guidance dalam kedua mode ini, sehingga walaupun GPS tidak tersedia JDAM masih bisa akurat.

JDAM dapat dilepaskan lebih dari 10 mil dan dari ketinggian high altitude. Hal tersebut memungkinkan pesawat untuk menghindari penembakan small Surface-to-Air Missiles (SAM) atau Anti-Aircraft Artillery (AAA atau triple A), sehingga meningkatkan survivability.

Yang menjadi perhatian khusus untuk JDAM adalah GPS jamming. Namun ini bukanlah suatu masalah karena sudah ada antisipasinya. Pertama-tama, signal GPS sekarang berada pada secure topology - GPS kit mengetahui jika sudah mendapatkan signal certified GPS signal atau tidak. U.S. Department of Defense telah menerima dana tambahan untuk membuat proses ini lebih aman dan untuk meningkatkan kemampuan kit untuk akusisi signal GPS dibawah skenario berbagai jamming. Kedua, jika JDAM kit tidak mengakuisisi signal GPS on the way down, Inertial Navigation System di kit akan mendapatkan weapon dekat target dengan akurasi yang bervariasi (tergantung kondisi) dan tidak akan terpengaruh jika GPS jatuh keluar dari jangkauan yang telah ditentukan. Semua ini terbukti dalam pertempuran di Irak, GPS jammer musuh mengambil alih JDAM.



Operational Use

JDAM dan B-2 ditampilkan dalam combat selama operasi Allied Force. B-2s, terbang 30-jam, tanpa henti, penerbangan pulang pergi dari Whiteman Air Force Base, Mo., mengirimkan lebih dari 600 JDAM selama operasi Allied Force.

Combat yang pertama menjatuhkan GBU-31 JDAM oleh unit F-16 yang dibuat di Afghanistan pada tanggal 29 November 2001, oleh 389th EFS selama penyebaran mereka dalam operasi Enduring Freedom ke Al Udeid AB, Qatar. Pilots yang bersejarah dalam misi ini adalah Col. William F. Andrews (366th AEG commander) dan Capt. Paul Kirmis (389th FS pilot).

Combat pertama yang menggunakan GBU-38 JDAM dibuat pada akhir bulan September 2004 oleh 87th FW selama penyebaran mereka dalam operasi Iraqi Freedom ke Al Udeid AB, Qatar, sebagai bagian dari ANG "Rainbow Team". Dua F-16 melakukan peluncuran simultaneous GBU-38 pada target yang sama di central Iraq. Bombs mengenai bangunan yang berlantai dua dengan kerusakan yang minimal. Serangan presesi sukses yang dikonfirmasi Abu Musab al-Zarqawi terrorist meeting," Coalition Press Information Center officials said. Pemimpin penerbangan misi ini adalah Lt. Col. Mitch, his wingman was Maj. Brian.



Specifications

Primary Function : Offensive interdiction precision-guided weapon
Contractor : LM Aero & Boeing
Guidance System : GPS assisted Inertial Navigation System
Unit Cost : $18,000 (FY 1999)

GBU-31(V)1/B
3.879 Length (m)
46 Diameter (cm)
946 Launch Weight (kg)
8 - 24 Range (km)
(Mk-84) Bomb

GBU-31(V)3/B
3.774 Length (m)
37 Diameter (cm)
981 Launch Weight (kg)
8 - 24 Range (km)
(BLU-109 Forged Steel Penetrator) Bomb

GBU-38/B
2.353 Length (m)
27.3 Diameter (cm)
253 Launch Weight (kg)
8 - 24 Range (km)
(Mk-82 or BLU-111/B) Bomb

Catatan : sebutan Nomenclature diatas adalah sesuatu yang sangat disederhanakan. Ada sub-variants yang lebih banyak tergantung pada variasi upgrade peralatan pada JDAM kit. Sebutan yang ditunjukan disini merupakan ada maksud yang tersembunyi. GBU-32 juga, 468 kg (1031 lb) Mk83 atau varian BLU-110 telah diuji coba pada F-16 tetapi tidak sering terlihat pada saat ini. Saat ini, GBU-32 series merupakan specific weapon F-22 U.S. Navy dan USAF.



Similar Weapons

Advanced Unitary Penetrator
Advanced Unitary Penetrator (AUP) mempunyai 2.000 lb. penetrator warhead yang ditujukan untuk pengganti BLU-109 warhead. AUP ini dirancang untuk memberikan kemampuan penetrasi yang meningkat dengan tetap menjaga keselurahan berat yang sama, dimensi, dan physical interfaces of the BLU-109 warhead. Sehingga memastikan kompabilitas dengan GBU-31 guidance kit. AUP menggunakan Hard Target Smart Fuze (HTSF), electronic fuze yang dapat mengontrol detonation point (titik peledakan) dengan layer counting, distance atau time. HTSF berisi accelerometer yang dapat merasakan G loads yang disebabkan oleh sudden deceleration of the bomb karena menembus ketarget. Hal ini memungkinkan fuze untuk membedakan antara bumi, beton, batu dan udara.

Small Diameter Bomb (SDB)
Tidak seperti JDAM, Small Diameter Bomb tidak seperti kit yang terpasang didumb bomb, single unit 250lb class weapon yang berbobot 285lbs. Terdiri dari small 50lb warhead dan GPS/INS guidance section dan fold out (melipat keluar) wing kit yang memberikan beberapa kwalitas stand-off range. SDB ini memerlukan BRU-61/A smart pneumatic carriage yang memegang 4 SDB weapons. BRU-61/A dengan 4 SDB dirancang agar sesuai dengan weapons bay F/A-22. SDB saat ini, beroperasional dengan F-15 E USAF. Memiliki penetrator shape yang manawarkan kemampuan similar penetration (penetrasi yang serupa) dengan heavy forged steel penetrator BLU-109. Airburst juga merupakan opsi attack. Pinpoint accuracy weapon ini dikombinasikan dengan penetration capability (kemampuan penetrasi), lebih dari cukup untuk menggantikan warhead yang lebih kecil. Tes awal dengan F-16 telah dilakukan. Saat ini, unit cost SDB sangat tinggi jika dibandingkan dengan JDAM kit.

Enhanced Paveway/Paveway IV
Dirancang dengan U.K. inventory of free-fall bombs in mind, yang tidak seseuai dengan JDAM kit. Paveway IV merupakan kombinasi laser guided/GPS kit. Hal ini dapat digunakan sebagai LGB, atau jika target tertutup oleh cuaca, sebagai GPS-guided munition. Unit costnya lebih tinggi daripada LGB kit. Enhanced Paveway digunakan oleh UK dan F-117 USAF di Irak. Enhanced Paveway juga digunakan oleh US Navy. Paveway IV merupakan pengembangan yang lebih lanjut dari Enhanced Paveway, menambahkan second-generation anti-jam, anti-spoof GPS dengan low-cost inertial measurement unit ke laser seeker.

Longshot
Longshot oleh Lockheed/Martin, adalah low-cost, GPS/INS self-contained wing adaptor kit yang menyediakan range extension (perluasan jangkauan) dan autonomous guidance capability untuk memperluas jangkauan air-to-surface munitions yang ada. Wireless operation. LongShot tidak memerlukan MIL-STD-1760 interface Using the UHF radio pada jet untuk memukul target menggunakan keypad seperti yang ada di Upfront Display.

French AASM GPS kit
GPS guidance kit untuk free-fall bombs, dikembangkan oleh Sagem. Saat ini, tersedia untuk 500lb bomb, tetapi kits untuk heavier bombs masih dibawah pengembangan. Kit ini cocok dengan optional strap-on IR seeker. Kit ini kemungkinan dikembangkan dengan new Rafale fighters. Konfigurasi umum untuk Rafale dan weapon ini akan menjadi 3 pada setiap wing dengan new triple ejector rack, yang juga dapat menahan GBU-12 (500lb LGB).

SPICE
GPS kit Israel dengan IR seeker. Kit sepenuhnya membungkus bomb. Unit costnya tidak diketahui.

KAB-500E
GPS/Glonass kit untuk 500kg bomb Russia. Jumlah total biaya dan pengembangan untuk Russian Air Force tidak diketahui.

LS-6
LS-6 merupakan solusi untuk Chinese PLAAF yang menggunakan 462 kg. class dumb iron yang digabungkan dengan GPS assisted precision kit. Hal ini juga termasuk fold out wing untuk memperluas glide range.




8. M61 A1 Vulcan
20mm gatling gun system


Introduction

M61A1 Vulcan General Electric merupakan 6-barrel 20mm cannon of the gatling-type. Standar penembakan 50 ammunition pada 6.000 round per menit (rate selectable in certain installations).


History

Pada tahun 1947 the brand new USAF membuat permintaan untuk new aircraft gun. Pelajaran dari WWII yang mana Fighter Jerman, Italia dan Jepang dapat menjangkau dan menyentuh Amerika dengan cannon main armament mereka, sedangkan yang keduanya mereka harus bangkit dengan 50 cal main armament P-51 dan P-47. 20mm Hispano yang dibawa oleh P-38 merupakan relatively low velocity weapon (senjata yang kecepatannya relatif rendah). Ide tentang menaikan unlimited ammo sampai akhir abad 19 "Gatling" type weapon, dan mengaktifkannya secara electrik telah dicoba oleh US Navy untuk digunakan pada Torpedo/gun boats mereka. Dan hasilnya adalah high rate of fire dan high rate of barrel wear out. Dengan propellant waktu itu dan periode metalurgi ketika itu merupakan ide yang bagus tetapi teknologi belum siap untuk merealisisasikannya.

Pada tahun 1950, US General Electric Company memulai desain cannon untuk Fighter USAF dibawah proyek Vulcan, yang berbasiskan pada konsep multi-barrel yang dipelopori oleh Richard J. Gatling diabad 19. Vulcan ditembakan pertama kali dalam pre-production form ditahun 1953, dan diterbangkan pertama kali oleh F-104 Lockheed. Masalah pertama dengan gas bleed mengakibatkan penghentian sementara tes penembakan, sampai venting system lebih baik untuk kompartemen F-104 gun dirancang.

Saat ini, setelah masa penghentian (ketika senjata tersebut telah dianggap usang karena adanya missile) M61 dalam one form atau yang lainnya merupakan bagian integral armament modern fighter seperti F-15, F-18 dan tentu saja seperti F-16.

Baru-baru ini divisi GE's armament diambil alih oleh Martin Marietta, lalu M-61 secara resmi dikenal sebagai M61A1 Lockheed-Martin dengan perbedaan utama yang menjadi versi A1 yang telah memiliki linkless feed system.


Construction

Multiple-barrels cannon menawarkan keunggulan dalam tingkat penembakan dan dalam barrel life. Dengan 6 barrels revolve, senjata tersebut melanjutkan berbagai tahap siklus penembakan gun, setiap barel yang akan ditembakan harus melalui posisi teratas. Setelah dihabiskan, kemudian di extract dan dieject, dan new round dimasukan dan chambered – semua pada posisi yang berbeda pada circle yang dideskripsikan oleh revolving barrel. Hal ini berarti bahwa tingkat penembakan dikalikan dengan jumlah barel, 6 barel diload/dimuat secara parallel. Selanjutnya, karena setiap barel hanya ditembakan pada 1/6th total firing rate, barrel wear and tear tidak bertambah, kelemahan utamanya adalah bahwa amunisi yang harus dikonsumsi sangat banyak dan membutuhkan ammo magazines yang lebih besar.

Gun Maintenance at Hill AFB: the barrel assembly has already been removed, while the ammo drum is currently being lifted out. (F-16.net photo)
Gun dimasukan melalui long linked belts of ammo, dan meskipun gun muncul sejak awal pengembangan agar menjadi yang sangat dihandalkan, tingkat penembakan yang belum pernah terjadi sebelumnya disebabkan oleh masalah berat dengan belts ini. Link yang menyambungkan round sering ditekuk, pecah atau diregangkan, menyebabkan gun menjadi macet. Selanjutnya, ketetapan yang harus dibuat adalah membuang link. Akibatnya pengembangan new linkless memberikan sistem sangat cepat untuk pemulaian. Didalam drum, round (tips to the middle) ditempatkan di giant Archimedean screw yang memindahkannya kedalam conveyor belt yang akan diberikan kepada gun. F-16 dan beberapa instalasi lainnya (instalasi M61A1 dibuat khusus untuk setiap jenis pesawat), empty case diangkut kembali ke drum melalui second conveyor belt. Baik conveyor belts yang disimpan di strong flexible ducts (saluran fleksibel yang kuat) dan yang diaktifkan oleh gun dan screw didalam drum yang digerakan melalui high-power flexible coupling.


Kebanyakan M61A1 family digerakan oleh sistem hidrolik pesawat atau (yang sangat luar biasa) digerakan oleh sistem tenaga listrik. 35hp dibutuhkan untuk menggerakan gun pada saat full firing rate, dan rotasi barel anticlockwise (berlawanan dengan arah jarum jam) bila dilihat dalam arah penembakan. Stationary breech housing memliki deep elliptical slot didinding bagian dalam yang menjalankan 6 cam followers, pada breech disetiap barel, follower digerakan secara linearl/garis lurus dalam atau tanpa breech, berturut-turut chambering, penembakan dan mengekstrak round. Breech rotor, untuk yang dipasang di 6 barrels, berputar didalam breech housing.

Di muzzle end/akhir moncong, 6 barel dipasang di clamp. Clamp ini dapat diganti dengan model lain, sehingga menawarkan sarana untuk memvariasikan barrel angle dan membuat dispersi yang sedikit berbeda. Bagian dalam setiap barel disediakan dengan twisted groove (siklus yang memutar) untuk memberikan round gerakan berputar.



F-16 Installation

Instalasi M6A1 di F-16 mengalami beberapa masalah awal, terutama pada bulan September 1979 ketika penembakan gun dilarang sementara waktu. Dua insiden telah terjadi dimana penembakan gun mengakibatkan uncommanded yawing movements (gerakan penembakan tanpa diperintah/dikehendaki). Penyebab masalah ini adalah accelerometer dalam the flight-control system terpengaruh oleh getaran yang disebabkan oleh pengoperasian gun. Accelerometer memberikan false data kedalam flight computer, yang memprakarsai yaw movements (gerakan yang tidak diperintahkan). Isolasi accelerometer yang sederhana dari getaran dapat memcahkan masalah tersebut. Semua 106 operasional F-16 dikirimkan sampai jadwal retrofitt selama tahun 1980.

M61 A1 Vulcan installation in aBAF F-16B, with all access panels open. (F-16.net photo)

Ammo drum terletak hanya di aft of the cockpit (bagian belakang kokpit) dengan ammo loading access door di bottom half of the starboard wing (bagian bawah setengah bagian kanan sayap), disamping air intake. Gun itu sendiri terletak di upper port side of the fuselage (sisi kiri atas bagian pesawat), dengan gun port di port side of the cockpit. Ammo drum memiliki kapasitas 511-round.

Gun controller adalah unit elektronik yang sebenarnya mengatur penembakan gun. Voltage pulse (tegangan tekanan) dikirim keluar dari gun controller untuk menembakan setiap round dalam ledakan tembak (firing burst). Pada akhir burst ketika trigger dilepaskan, gun akan membereskannya dengan sendirinya. Dalam operasi clearing 5 sampai 9 round tidak ditembakan melalui putaran gun tanpa firing pulses (tegangan tembakan), dan memberikannya kembali ke ammo drum. Round ini dilakukan selama penerbangan sebagai spent rounds dan tidak bisa digunakan. SMS (Stores Management System) memiliki rounds remaining counting function yang menghitung setiap tegangan tembakan dari gun controller dan subtracts dari jumlah muatan round. Dalam operasi clearing, walau bagaimanapun tidak ada pulse/tegangan atau cara menentukan jumlah clearing round yang sebenarnya. Oleh karena itu, SMS mengasumsikan 7, karena bisa jadi ada perbedaan antara round yang tersisa di SCP dan jumlah round tersisa yang sebenarnya ditembakan. Penembakan ini dapat menjadi lebih besar dengan peningkatan jumlah clearing.



Operational Use

Gun membutuhkan waktu sekitar 0.3 detik untuk menyelesaikan full rate of fire, dan setengah detik untuk kembali lagi. Beberapa kritikus (terutama analisis pertahanan Pierre Sprey didalam sebuah makalah yang disebut dengan First Rounds Count) menyatakan bahwa aim/bidikan yang paling benar adalah ketika pilot menarik triggel atau pelatuk, dan kemudian setelah itu mulai menyimpang.

A close-up of the gunport of a Dutch F-16B after a live-firing exercise. Hot gasses from the muzzle have left carbon traces, which -if not removed- corode the paint. (F-16.net photo)

Close up of the M61 gunport on a Norwegian F-16A. The copper color is copper-grease, applied to the gunport to protect it from the hot gasses during firing. Burns from the gasses are difficult to clean after a firing period. (F-16.net photo)

Oleh karena itu, 0.3 detik delay akan menyebabkan gun akan menembakan tepat setelah piper yang terbaik selaras dengan target. Revolver cannon seperti Mauser BK27 (yang dipasang diTornado) tidak memiliki masalah ini, karena mencapai maximum rate of fire instantly (tingkat maksimum penembakan secara instan). Sebuah perhitungan yang sederhana, namun menunjukan bahwa penembakan M61 70 rounds didetik pertama (6.000 rounds/minute = 100/detik. 30% detik kedua merupakan penembakan yang tidak akurat, sehingga meniggalkan penembakan 70 round di detik pertama). Penembakan BK27 di 1.700 rpm, atau 28 round perdetik.

Untuk menembakan jumlah round yang sama didetik pertama, anda masih membutuhkan 3 BK27 dalam penggantian satu Vulcan – tantangan yang cukup untuk menempatkannya dalam limited space available (ruang terbatas yang tersedia) di F-16 !

Tingkat penembakan 6.000 rpm atau 100 rps yang berarti bahwa shells diberi jarak sekitar 0.01 detik. MiG-29, dengan panjang 56ft 5 (17.20m) dan 90? angle-off (yaitu dengan arah tegak lurus penerbangan ke arah penerbangan F-16) terbang di 543kts (1.000 km/h) atau 278m/sec perjalanan 2.78m di 0.01 detik. Oleh karena itu, Fulcrum akan terkena sedikitnya 5-6 kali jika aim/bidikannya benar (17.2/2.78=6.187).



Specifications

Sound
Karena tingkat penembakan Vulcan yang sangat tinggi, adalah mustahil untuk membedakan antara individual 'shots'. Sangat berbeda dari typical movie sound-effects, M61 sounds lebih seperti bor beton berat (heavy concrete drill). 5 detik sound fragment VADS (Vulcan Air Defense System), yang digunakan oleh Belgian Air Force untuk titik pertahanan lapangan udara. Sayangnya hanya AU file format yang saat ini tersedia – browser yang paling banyak, namun mendukung format ini.

Ammunition
Komponen yang membentuk complete round adalah brass cartridge case, an electric primer,propellant powder, dan projectile. Proyektil ditembakan ketika electrical pulse diaplikasikan ke primer. Nyala api yang dihasilkan melalui gas vent menuju kepropellant chamber dan membakar propelant. Ketika propelant terbakar, membentuk gas yang memaksa proyektil menuju gun barrel. Satu-satunya perbedaan yang signifikan antara 5 jenis amunisi berada dalam proyektilnya. Yang terletak dibelakang disemua proyektil adalah band of soft metal yang menjadi dudukan di grooves/alur of the gun barrel. Grooves dalam barrel diputar sehingga proyektil menerima gerakan rotasi berputar karena bergerak dan meninggalkan melalui gun barrel. Rotasi ini diinduksi untuk memberikan stabilitas dalam penerbangan. Soft band juga berfungsi untuk mencegah propelling gas dari escaping past the projectile.


Dummy Ammunition
Kode warna dummy ammunition dapat berupa bronze/tambaga atau shades of gray/ bernuansa abu-abu atau tan/coklat. Amunisi Dummy digunakan untuk memeriksa gun system.

M55A1/A2 Target Practice Round (M220 TP Tracer Round)
M55A1 dan M55A2 target practice (TP) round adalah ball ammunition, dengan body yang terbuat dari baja. Proyektil tersebut berongga dan tidak mengandung filler.

M53 Armor-Piercing Incendiary Round
Body M53 armor-piercing incendiary (API) projectile terdiri dari solid steel. Hidung proyektil yang terbuat dari aluminum alloy, dicharged dengan komposisi pembakar, dan ditutup dengan closure disk. Proyektil tersebut tidak memerlukan fuze karena terbakar setelah impact.

M56 High Explosive Incendiary Round (XM242 HEI Tracer)
M56 high-explosive incendiary (HEI) round berisi proyektil HEI. Round ini digunakan untuk menghadapi target pesawat dan target ringan. Proyektil meledak dengan efek pembakaran setelah menembus permukaan target. Proyektil HEI memerlukan fuze yang memiliki jarak delay arming 20 sampai 35 kaki dari muzzle gun. Centrifugal force, yang diciptakan oleh spin, memungkinkan detonator untuk menyelaraskan firing pin dan booster, sehingga arming/mempersenjatai the round. Setelah impact, penekanan proyektil ketarget menghancurkan nose of the fuze dan memaksa firing pin malawan detonator. Booster diprakarsai oleh detonator yang menyebabkan proyektil meledak.

PGU-28
Dimulai dengan Block 50 (sejauh yang berkenaan dengan F-16 saja) penetapan telah dibuat untuk menembak new 'hotter, faster, farther' PGU-28 round. Konon, 3 kali perjalan sejauh standard M53 round, secara efektif menutup celah antara Sidewinder minimum engagement range dan gun's maximum engagement range.

Ammunition Specifications 




Specifications
Length : 1,875mm (73.8in)
Weight : 120kg (265lbs)
Muzzle Velocity : 1,036m/s (3,400ft/s)
Rate of Fire : Max 6,600 rps (can be set to 4,000 or 6,000)




9. Other Armament


Other Air-to-Air Missiles

Beberapa operator F-16 ekspor membawa missile air-to-air khusus mereka sendiri di tempat Sidewinder/AMRAAM set yang dibawa oleh F-16C/D USAF.

Pesawat F-16 Pakistan dapat membawa Matra R.550 Magic 2 air-to-air infrared homing missiles dan Sidewinder. Original Magic I mulai beroperasi pada tahun 1975, dan improved Magic 2 mulai beroperasi pada tahun 1985. Penembakan kwalifikasi pertama R.550 dari F-16 pada bulan Mei 1989. Magic 2 berbeda dari Magic 1 dalam memiliki all-aspect infrared seeker, yang dapat membantu peluncuran air-interception radar pesawat dan mengerahkannya ketarget yang telah ditentukan sebelum peluncuran (seeker Magic 1 melakukan autonomous search sebelum peluncuran). R.550 memiliki launch weight (berat peluncuran) 198 pound, panjang 109 inchi, diameter body 6.2 inchi dan fin span 26.3 inchi, jangkauan maksimum sekitar 10 kilometer. Missile memiliki 28-pound rod/fragmentation type high explosive warhead dengan all-sector proximity fuse atau impact-loop detonation yang lebih cocok untuk head-on interceptions daripada warhead Magic 1.

Pesawat F-16 Israel dapat membawa missile Rafael Python 3 diSidewinder wingtip rails. Python 3 dibawa kedalam layanan Israel selama serbuannya ke Libanon tahun 1982, dengan pre-production round sedang diuji dalam actual air-to-air combat melawan pesawat Syiria. Python 3 merupakan infrared homer yang memiliki berat sekitar 265 pound dab panjang 118 inchi dengan diameter body 6.25 inchi dan fin span 33.9 inchi. Dengan berat warhead conventional rod-type high-explosive 24 pound, ia memiliki jangkauan maksimum sekitar 15 kilometer dan kecepatan maksimum 3.5 Mach. infrared seeker Python 3 memiliki plus atau minus 30- derajat gimbal angle dan dapat dioperasikan di boresight, uncaged, atau radar-slaved mode. Python 3 diklaim oleh Israel memiliki kecepatan, radius memutar, dan jangkauan yang lebih tinggi dari AIM-9L Sidewinder.

Pesawat F-16 A/B khusus melayani dengan air defense units of the Air National Guard yang bisa membawa dan meluncurkan missile AIM-7 Sparrow dari underwing hardpoint terluar. Selain itu customer ekspor F-16 seperti Bahrain dan Mesir dapat membawa dan meluncurkan missile Sparrow, versi untuk saat ini adalah AIM-7M dan AIM-7P. Versi Sparrow pertama untuk melihat skala besar layanan adalah AIM-7E, AIM-7E2, dan AIM-7F, tetapi hasil combat dengan missile ini selama tahun 1960-an diatas Vietnam mengecewakan. Versi AIM-7F Sparrow memperkenalkan solid-state electronics sebagai pengganti miniature vacuum tubes versi sebelumnya. Hal ini dapat memungkinkan miniaturisasi warhead yang akan maju kedepan wing, dengan bagian belakang missile yang dikhususkan hampir seluruhnya kerocket motor. Ruang ekstra yang disediakan oleh pengenalan solid-state miniaturization dapat memungkinkan untuk pengenalan dual-thrust booster/sustainer rocket motor, jangkauan efektif Sparrow menjadi 2kali lipat (sampai 28-30 mil). AIM-7L memiliki tube lebih sedikit dan solid state features yang lebih padat. AIM-7M diperkenalkan pada tahun 1982, menampilkan inverse-processed digital monopulse seeker yang lebih sulit untuk dideteksi dan dijam dan menyediakan kemampuan look-down, shoot-down yang lebih baik. AIM-7P dilengkapi dengan guidance electronics yang ditingkatkan termasuk on-board computer yang berbasis pada teknologi VLSIC. Hal ini dimaksudkan agar memiliki kemampuan yang lebih baik terhadap target kecil seperti cruise missiles dan sea-skimming antiship missiles.

AIM-7M memiliki panjang 12 kaki dan memiliki berat peluncuran/launch weight sekitar 500 pounds. Missile tersebut membawa 85-pound high-explosive blast fragmentation warhead. Memiliki 2 sets of delta-shaped fins – satu set fixed fins dibagian belakang missile dan satu set movable fins ditengah missile untuk pengemudian. Jangkauan efektif maksimum sekitar 45 kilometer (28 mil).


Bombs and Ground-Attack Missiles

Pesawat F-16 memiliki 6 underwing hardpoint dan 1 under-fuselage hardpoint untuk membawa fuel tanks atau weapons. Beberapa jenis weapon dapat dibawa, termasuk missile air-to-surface, "smart" bombs, conventional iron bombs, dan bahkan senjata nuklir.

Guided weapons yang dapat dibawa oleh F-16 termasuk missile antiradiation seperti AGM-45 Shrike, AGM-78 Standard, dan Texas Instruments AGM-88 HARM.

Pesawat F-16 Norwegia memiliki role anti-shipping yang sangat penting, dan dapat membawa dan meluncurkan missile locally-built Kongsberg Vapenfabrikk Penguin 3 antiship. Pengiriman Penguin 3 dimulai pada tahun 1987, senjata ini telah diuji oleh USAF dengan sebutan AGM-119. Midcourse guidance adalah dengan inertial system dan radio altimeter, sementara bidikan akhir dengan infrared seeker.

Impressive array of bombs dapat membawa 6 underwing pylons. F-16 dapat mengirimkan smart, laser-guided bombs jika ada pesawat lain yang dilengkapi dengan laser didekatnya (atau facility on the ground) yang dapat menerangi target yang akan diserang. Kemudian F-16 C/D yang diolengkapi dengan LANTIRN dapat membawa laser designator mereka sendiri dan oleh karena itu dapat mengirimkan smart bombs tanpa bantuan.




10. US Tri-Service Designation System Electronic Equipment


Pada tahun 1962, militer US mengadopsi apa yang disebut dengan "Tri-Service" dan masih digunakan sampai saat ini. Dibawah sistem three services (USAF, USN dan USMC) yang merupakan sebutan umum untuk penggunaan pesawat, guided missiles dan perlengkapan elektronik. Konvensi tersebut dijelaskan dalam DEPARTMENT OF DEFENSE PUBLICATION 4120.15-L dan secara resmi dikenal dengan MDS (MISSION, DESIGN, AND SERIES SYSTEM). Dibawah ini adalah rincian designation system/sistem sebutan untuk perlengkapan elektronik :


General Format

Sebutan khas untuk perlengkapan elektronik (electronic equipment) memiliki format sebagai berikut :



Dengan X untuk arbitrary letter (surat kekuasaan) dan hash-mark untuk arbitrary digit. Tidak semua letters atau digits selalu digunakan, dan AN/ adalah opsional. Semua karakter memiliki arti khusus sesuai dengan posisi mereka dalam penyebutan :

1. Joint Service Indicator
AN adalah optional joint service indicator, terpisah dari sebutan dengan slash/garis miring. Jumlah bagian dibawah ini sesuai dengan nomor yang ada diatas.

2. Platform / Installation
Menandakan sifat dasar paltform dimana perlengkapan tersebut diinstal.




3. Equipment Type
Menunjukan jenis atau sifat perlengkapan.


4. Purpose
Menunjukan tugas utama perlengkapan tersebut dirancang.




5. Design Number
Seharusnya berurutan, ini menunjukan model vehicle/kendaraan dalam kategori basic mission.

6. Series
Ditunjukan dengan (menurut abjad) modifikasi besar dengan desain aslinya, yang ditunjukan dengan A. I dan O biasanya diabaikan untuk menghindari kebingungan dengan 1 dan 0.

7. Configuration Number
Menunjukan modifikasi kecil.



Contoh

AN/ALQ-131B merupakan Joint-Service, airborne countermeasures device untuk tujuan khusus, model nr.131, modification B.




11.US Tri-Service Designation System Guided Missiles


Pada tahun 1962, militer US mengadopsi apa yang disebut dengan "Tri-Service" dan masih digunakan sampai saat ini. Dibawah sistem three services (USAF, USN dan USMC) yang merupakan sebutan umum untuk penggunaan pesawat, guided missiles dan perlengkapan elektronik. Konvensi tersebut dijelaskan dalam DEPARTMENT OF DEFENSE PUBLICATION 4120.15-L dan secara resmi dikenal dengan MDS (MISSION, DESIGN, AND SERIES SYSTEM). Dibawah ini merupakan rincian designation system/sistem penyebutan untuk guided missiles :


General Format

Sebutan khas Guided Missile memiliki format sebagai berikut :



Dengan X untuk arbitrary letter (surat kekuasaan) dan hash-mark untuk arbitrary digit. Tidak semua letters atau digits selalu digunakan, dan AN/ adalah opsional. Semua karakter memiliki arti khusus sesuai dengan posisi mereka dalam penyebutan (jumlah bagian dibawah ini sesuai dengan nomor pada gambar diatas) :

1. Status Prefix (Rarily Used)
Menunjukan modifikasi khusus untuk missile.


2. Launch Environment
Mengindikasikan type (s) of launching platform(s).


3. Basic Mission
Mengindikasikan tugas utama kendaraan yang dirancang.



4. Vehicle Type
Mengindikasikan jenis kendaraan.


5. Design Number
Seharusnya berurutan, ini menunjukan model vehicle/kendaraan dalam kategori basic mission.

6. Series
Ditunjukan dengan (menurut abjad) modifikasi besar dengan desain aslinya, yang ditunjukan dengan A. I dan O biasanya diabaikan untuk menghindari kebingungan dengan 1 dan 0.

7. Configuration Number
Menunjukan modifikasi kecil.



Example

AIM-9P-4 merupakan merupakan missile air-launched intercept model nr.9, modification P, dan submodification 4.




Sumber: www.f-16.net
Artikel ini merupakan sumbangan dari Formiler Kaskus, agan Penjarah.
Terima kasih Bro! :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar